Kamis, 26 November 2020. Selamat datang di website resmi SMA Negeri 1 Sampit

Novel Dan Perpisahan Adalah Semu

Kamis, 1 Oktober 2020 09:51:56 - oleh : admin
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)

 

Dan Perpisahan Adalah Semu
Karya: Priskila Gracia

 

     “Kenapa kamu berbohong?” Pria berjaket hitam itu bertanya dengan nada terburu-buru. Matanya bolak-balik menatap wanita di hadapannya saat ini dan pria berjubah hitam yang tengah menghitung dengan jarinya yang berjumlah seribu di belakang sana. Mata berwarna cokelat gelap itu berbinar bagai bintang mendengar pertanyaan tersebut. Tatapannya yang demikian seperti tengah bertanya balik, tak mengerti akan maksud pria di hadapannya.

     “Kamu bilang, semua akan baik-baik saja. Tapi, kenyataannya tidak begitu. Kenapa kamu berbohong?”

     Wanita dengan rambut cokelat dikuncir kuda itu memiringkan kepala, seperti seekor landak yang keheranan melihat tingkah bajing yang menarikan tarian aneh di atas dahan pepohonan. Senyumnya yang aneh itu kembali mengembang, senyum yang dulu berhasil menaklukkan hati setiap pria, termasuk si penanya. “Bukankah aku telah menepatinya?” ucapnya kemudian.

     Lelaki berambut agak ikal tersebut menggelengkan kepala, membuat rambutnya yang nyaris keriting bergoyang lucu ke kiri dan kanan. Matanya mulai berkaca-kaca. “Tidak. Kamu berbohong! Kita harus berpisah dan kamu tahu tidak ada yang baik-baik saja mengenai hal itu!” sahutnya sambil menahan tangis. Ia seperti seorang anak kecil yang baru saja direnggut mainannya. Marah, tapi juga sedih. Tidak tahu harus berbuat apa.

     Melihat hal itu, tangan halus sang wanita kemudian perlahan bergerak naik. Jari-jarinya yang lentik seperti tengah menari di atas semilir angin sebelum kemudian mendarat dan meraba pipi tirus putra Adam. “Jangan menyebutnya perpisahan, Bahalap! Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kita saling mencintai dan Tuhan sendiri yang telah menakdirkan kita bersama? Maka, jika demikian, tak ada yang bisa memisahkan kita. Tak pernah ada perpisahan bagi kita.”

     Sang pria menundukkan wajahnya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai berguguran di pipinya. Tapi, wanita muda dengan kulit tembaga mahaindah itu telah mengenalnya terlalu dekat. Ia mengetahui apa yang tengah pria itu coba sembunyikan. Dan, oleh karena itu, hatinya pun ikut remuk, lalu butiran hangat mulai memenuhi pelupuk matanya.

***

     “Kamu tahu bahwa tugas ini tak wajib, Bawin. Tak ada yang memaksamu. Mereka pun tak bisa memaksamu!” Bahalap telah berulang kali mengulangi kalimat-kalimat itu, membuat Bawin sedikit muak. Rasanya, tahi lalat di tepi kiri atas bibirnya telah bergeser akibat ia berulang kali manyun sambil menggerakkan mulutnya ke sana-sini setiap kali mendengar ucapan Bahalap tersebut.

     “Memang tidak ada yang memaksaku, Bahalap! Tetapi, panggilan jiwaku yang menuntut aku melakukan ini! Kenapa kamu tak kunjung mengerti?” Bawin menjawab dengan nada bercampur antara muak dan kesal. Ia telah berulang kali menjelaskan pada suaminya tersebut dengan kalimat yang itu-itu saja. Namun, Bahalap tetap bersikuku membantah. Ia seperti tak mau mengerti, seakan-akan ia tak bisa bahasa Indonesia.

     “Tapi, tugas ini berbahaya! Kamu tahu bahwa penyakit ini menular dengan sangat cepat. Penyakit ini juga tidak bisa diremehkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Apa kamu pikir, mereka akan memikirkan nasibmu?”

     “Sayang, teman-temanku pun berhadapan dengan resiko yang sama. Tak adil bila aku meninggalkan mereka di medan perang sendirian!”

     “Tapi, kamu tengah hamil muda, Bawin!” Bahalap memegang perut istrinya yang telah sebulan ini semakin membuncit. “Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kalian? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak kita?” bisiknya lirih.

     Napas Bawin tertahan mendengar kalimat itu. Tangannya kemudian memegang perutnya sendiri, meraba tangan sang suami yang masih menanti keputusannya. Pikirannya berkecamuk, melayang ke arah segala kemungkinan negatif. Dua sejoli yang baru setahun menempuh biduk rumah tangga tersebut diam untuk sesaat. Hingga akhirnya, Bawin menoleh. Ditatapnya mata Bahalap lamat-lamat. “Kamu percaya padaku, ‘kan, Bahalap?”

     Bahalap terhenyak. Lidahnya tercekat, melekat di langit-langit mulutnya. Tak mampu ia menjawab pertanyaan separuh menjebak itu.

     “Kenapa kamu diam, Sayang? Kamu percaya padaku, ‘kan?” tanya Bawin sekali lagi.

     Bahalap memejamkan matanya, lalu dengan berat hati, ia menjawab lirih, “Aku selalu percaya padamu, Bawin. Kamu berbeda dengan perempuan lain. Kamu mandiri, cerdas, dan bersahaja. Itulah yang membuat aku percaya dan jatuh cinta padamu, bahkan sampai berani melamarmu. Tetapi, hal ini tak ada kena-mengena dengan kepercayaanku.”

     “Tentu ada.” Bawin tersenyum. Senyum yang amat teduh, seteduh kala engkau duduk di bawah pohon besar yang rimbun saat mentari jatuh tepat di puncak kepala. “Kamu bilang, kamu percaya aku, ‘kan? Kalau begitu, kamu juga harus yakin, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjaga diriku dan anak kita sebaik-baiknya.”

     “Tapi, Bawin, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu?” Bahalap masih berusaha membujuk. “Aku tidak mau berpisah dengan kamu.”

     “Ssst!” Bawin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Bahalap. “Jangan menyebutnya demikian, Bahalap! Bagi aku, tak pernah ada perpisahan denganmu. Kita akan selalu bersama dan semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!” Bawin berucap dengan nada meyakinkan. Bisikannya yang tegas dan cara bicaranya yang memesona seolah menghipnotis Bahalap dengan cepat. Sampai akhirnya, pria itu menghela napas lalu dengan berat menganggukkan kepalanya.

***

     Itu empat bulan yang lalu, saat kali pertama Bahalap mengantar Bawin ke rumah sakit—yang entah mengapa, sejak saat itu, jadi lebih menyeramkan daripada rumah terangker di seluruh dunia. Masih segar di ingatan Bahalap senyuman Bawin hari itu. Di dalam mobil, sesaat sebelum turun, ia mengecup bibir Bahalap singkat sambil diiringi oleh kalimat meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahalap hanya mengangguk hari itu, tak membantah. Matanya memandang punggung wanita yang telah turun dari mobil tersebut. Kakinya yang jenjang berlari-lari kecil menyusuri halaman parkir rumah sakit.

     Bahalap menghela napas sekali lagi. Entah mengapa, napasnya benar-benar terasa sesak hari ini. Ia sempat curiga bahwa dirinya mengidap penyakit baru itu, Covid-19, yang memicu perdebatan—bahkan di rumah tangganya tempo waktu lalu. Tapi, Bawin bilang, mungkin itu bukan karena Covid-19. Bisa jadi itu hanya karena Bahalap tengah cemas. Ya, yang terakhir itu ada benarnya. Setiap kali merasa cemas, Bahalap sadar bahwa ritme bernapasnya jadi berubah. Dan, untuk saat itu, ia punya alasan merasa cemas.  Meski Bawin telah mengatakan segala macam hal untuk menenangkan dirinya dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi Bahalap justru merasakan perasaan yang berbeda. Ia merasa semuanya akan memburuk dalam waktu-waktu yang akan datang. Tidak akan ada yang baik-baik saja. Entah mengapa, firasatnya merasakan demikian.

     Ia sebenarnya telah mencoba melarang Bawin mengambil tugas ini, tetapi wanita itu benar-benar keras kepala. Ia selalu menolak dan mendebat larangan Bahalap dengan opini yang seakan tak terbantahkan. Padahal, gaji Bahalap sebagai guru di sekolah internasional itu telah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan keluarga kecil mereka. Menurut Bahalap, Bawin tak perlu lagi susah-susah bekerja. Namun, Bawin lagi-lagi menolak usulan tersebut. Ia bahkan marah besar. Dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan bahwa pekerjaannya bukan hanya tentang uang dan materi. Sebaliknya, ia memilih menjadi perawat agar bisa mengabdikan diri untuk membagikan kebahagiaan bagi mereka yang sakit, mulai dari sakit biasa sampai sakit yang beresiko merenggut nyawa.

     Dan, begitulah semuanya terjadi! Bawin tak pernah bisa dipaksa dan Bahalap juga tak pernah mampu memaksa. Ah, seharusnya Bahalap tahu itu sejak dulu! Delapan tahun yang lalu, saat bertemu dengannya di pertemuan organisasi kampus, ia telah melihat gelagat keras kepala dan tak terkalahkan itu dalam diri Bawin. Meski tak pernah memimpin organisasi itu, Bawin selalu bisa menarik perhatian semua orang, termasuk Bahalap. Padahal, saat itu, ia masih duduk di semester ketiga perkuliahan. Gaya berbicaranya yang begitu meyakinkan dan berapi-api membuat ketua BEM bahkan terkagum-kagum padanya.

     Ya, Bawin memang telah memiliki pesona itu sejak lama. Ia cantik dengan kulit tembaga, mata cokelat gelap tajam, senyum lebar yang menggoda, serta rambut lurus panjang berwarna kecokelatan yang sering dikuncir kuda. Ditambah lagi dengan wawasannya yang luas serta gaya bicaranya yang memikat. Ia juga bersahaja dan memegang teguh prinsip-prinsip nilai moral.

     Dulu, Bawin menjadi wanita yang paling banyak ditaksir. Semua perempuan di kampus mendelik iri padanya sambil diam-diam menyumpahinya dalam hati agar wajahnya yang jelita itu berubah jadi buruk rupa atau pita suaranya terjepit lalu ia jadi bisu. Jahat memang! Tapi, itu benar! Soalnya, Bahalap pernah mendengar temannya sendiri berbicara seperti itu tentang Bawin. Namun, selain menjadi wanita paling banyak ditaksir, Bawin juga menjadi gadis yang paling sulit ditaklukkan. Telah banyak pangeran tampan yang datang menyatakan perasaan padanya, tetapi Bawin selalu menolak dengan banyak alasan serta pertimbangan, mulai dari agama, edukasi, sampai keseriusan. Yang tidak bisa memberikan kepastian, jangan coba-coba menyatakan cinta padanya. Semua jadi bertanya-tanya, siapa kiranya yang akan berhasil menaklukkan hati Bawin, si tuan putri impian?

     Dan, coba tebak siapa yang akhirnya berhasil melakukan itu! Ya, dia adalah Bahalap, si kutu buku yang doyannya membolak-balik halaman-halaman buku berdebu di perpustakaan kampus. Mereka bertemu secara tak sengaja di perpustakaan. Bahalap yang adalah kakak tingkat Bawin kemudian berkenalan dengannya, dengan dia yang selama ini diam-diam dikagumi dan dipujanya. Tak disangka-sangka, Bawin pun membalas perasaan Bahalap. Saat menerima lamaran pria tersebut, Bawin menyatakan bahwa Bahalap adalah pria yang selama ini dicarinya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah.

     Namun, sifat keras kepala Bawin masih bertahan hingga kini. Ia tak berubah sama sekali dalam hal itu. Prinsip-prinsip yang ia pegang masih berdiri kokoh, tak terkecuali soal pekerjaannya yang telah ia anggap sebagai pengabdian. Kadang-kadang, Bahalap juga merasa kesal saat kalah adu argumen dengannya. Tapi, entah mengapa, Bawin selalu berhasil membujuknya dengan mengusap halus lengannya yang berambut lebat, sambil membisikkan kata maaf dengan gaya menggemaskan.

     Suara notifikasi dari ponselnya membuat Bahalap kembali tersentak. Segala cerita itu terjadi empat bulan yang lalu. Ia menguap sekali lagi, mengerjapkan mata dengan cepat, berusaha mengusir kantuk yang membuat tubuhnya oleng. Diliriknya jam dinding. Tepat pukul sebelas malam, tapi Bawin belum juga pulang. Selama masa pandemi ini, Bahalap memang lebih banyak menghabiskan waktu dalam rumah. Sekolah swasta internasional tempatnya bekerja ditutup sementara tiga bulan yang lalu sampai waktu yang belum bisa dipastikan. Bahalap tak kehilangan pekerjaannya. Tadi pagi, ia mengajar murid-muridnya mata pelajaran Bahasa Inggris. Setelah satu jam pertemuan melalui aplikasi daring, Bahalap kemudian disibukkan oleh sejumlah pekerjaan lainnya, seperti mengoreksi tugas siswa, menagih mereka yang belum mengumpulkan pekerjaan, dan menyiapkan materi-materi baru. Ia tak perlu memasak. Bawin telah menyiapkan makanan di dapur. Hanya perlu dipanaskan saat perutnya berbunyi.

     Sementara Bahalap menghabiskan banyak waktu di rumah, Bawin justru semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia jadi lebih sering pulang malam. Kantong matanya juga semakin tebal. Bahalap telah berulang kali menawarkan diri untuk menjemputnya setiap pulang dari rumah sakit, tapi Bawin selalu menolak. Katanya, dia lebih baik naik taksi online yang punya pelindung plastik sebagai pembatas sopir dan penumpang, sehingga risiko penularan bisa dikurangi.

     Suara pintu dibuka membuat Bahalap tersentak sekali lagi. Senyumnya merekah saat melihat wajah penat itu di balik pintu. “Hai!” sapanya riang. Wajahnya seketika berubah seceria seorang bocah yang dibawakan es krim oleh ibunya yang baru pulang dari pasar.

     “Hai! Kamu belum tidur?” tanya Bawin heran. Ia mengamati wajah Bahalap yang juga sama kusutnya seperti wajahnya.

     Bahalap menggeleng. “Belum. Aku menunggu kamu.”

     “Ya ampun, Sayang! Harusnya kamu tidur saja. Aku juga bawa kunci cadangan tadi.” Bawin mengerutkan kening, menepuk celana kainnya. Gemerincing kunci berbunyi.

     Bahalap tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Ia melambaikan tangan di depan wajah. “Tidak apa-apalah! Aku juga tidak bisa tidur kalau tidak ada kamu. Lagipula, bukannya selama empat bulan ini aku selalu begini?”

     Bawin ikut tertawa kecil. Wajah lusuhnya memamerkan gigi putih yang berbaris rapi. “Ya sudah. Kalau begitu, aku mandi dulu. Lalu, kita makan. Kamu juga belum makan malam, ‘kan?”

     Bahalap menggeleng sambil cengengesan.

     “Sudah kuduga!” Tawa keduanya pecah bersamaan saat Bawin mengucapkan kalimat tersebut. Bawin menggelengkan kepala, heran dengan tingkah suaminya. Diam-diam, ladang bunga di hatinya bermekaran. Ia terharu melihat tingkah Bahalap. Sungguh beruntung ia memiliki pria itu sebagai suaminya. Ia tak salah memilih pendamping sehidup-semati. “Aku mandi dulu,” ucapnya di ujung tawa.

     Bahalap mengangguk. “Jangan lama-lama, ya?”

     Bawin hanya tersenyum kecil, tak menyahut. Ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Tapi, tiba-tiba, kepalanya terasa pening. Langkahnya jadi berat. Pandangannya pelan-pelan mengabur. Kemudian, tanpa aba-aba, tubuhnya oleng ke samping.

     “Bawin!” Bahalap spontan hendak menangkap tubuh istrinya tersebut, tetapi Bawin segera mengacungkan tangan. Ia mengangkat wajahnya yang pucat pasi, lalu menggeleng.

     “Kamu tidak boleh pegang aku dulu! Aku belum steril!” larangnya.

     “Tapi, kamu ....”

     Bawin menggeleng lebih keras. “Aku tidak apa-apa, Sayang. Hanya kelelahan. Aku akan mandi, lalu makan dan tidur.”

     “Kamu yakin baik-baik saja?” Bahalap menggigit bibir bawahnya. Ia begitu ingin memegang istrinya, menahan tubuh perempuan itu yang seperti akan ambruk sekali lagi. Tetapi, Bawin tentu tak mengizinkannya.

     “Aku baik-baik saja, Bahalap. Percayalah!”

     “Baiklah.” Bahalap menyerah. “Kamu cepatlah mandi, lalu kita istirahat.”

     Bawin menganggukkan kepala. Tertatih-tatih ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dengan cepat, ia segera melepas pakaian, menghidupkan pancuran mandi. Air mengalir dari pancuran tersebut, membasuh tubuhnya yang terasa remuk. Disabuninya sekujur tubuhnya, mulai dari muka sampai ujung kaki. Ia bahkan mencuci rambutnya. Tak ada satu pun bagian yang terlewatkan.

     Empat bulan yang lalu, saat pertama kali pulang dari rumah sakit dengan situasi aneh seperti ini, hatinya terasa hancur. Biasanya, ia selalu dijemput oleh Bahalap. Di dalam mobil, ia akan memeluk pria itu, lalu menerima kecupan hangat di dahinya. Tetapi, hari itu, ia tak bisa melakukannya. Bahkan sampai kini pun tidak. Penyakit yang datang dari negeri seberang lautan sana itu telah mengubah semuanya. Kata para ahli, penyakit yang disebabkan oleh virus itu bisa menular dengan sangat cepat. Ia bahkan bisa mengkristal dan bertahan di benda mati selama berjam-jam, kecuali jika dibasmi dengan disinfektan. Bawin telah melihat puluhan, bahkan mungkin ratusan orang meregang nyawa karena penyakit ini. Rumah sakit tempatnya bekerja yang dulu sudah terasa mencekam, kini semakin terasa mengerikan. Bawin tak bisa membayangkan bila Bahalap sampai tertular penyakit itu melalui dirinya. Tak sanggup ia memikirkan melihat tubuh lelaki yang amat dicintainya itu terbaring di ranjang rumah sakit, bahkan sampai meregang nyawa.

     Bawin menggelengkan kepala dengan cepat, mengusir bayangan mengerikan itu dari pikirannya. Ia telah selesai mandi dan berganti baju. Hanya saja, ia masih melamun di depan cermin. Lalu, pikiran menyeramkan itu hinggap begitu saja di otaknya. Bulu kuduk Bawin jadi berdiri. Ia meraba perutnya yang kian membesar. Rasa tenang tiba-tiba menjalar dari sana, mengusir semua ketakutan dalam hatinya. Bawin meyakinkan diri bahwa ia, Bahalap, dan anak mereka yang masih ada dalam perutnya saat ini akan tetap bersama. Dan, selama mereka bersama, ia tahu, semuanya akan selalu baik-baik saja.

     Bawin segera membuka pintu kamar mandi. Ia keluar, lalu menjemur handuknya. Langkahnya telah sedikit lebih mantap daripada sebelum mandi tadi. Kemudian, ia menuju ruang makan, tempat Bahalap telah menantinya.

     “Hai! Yuk, makan!” ajak Bahalap. Bawin tersenyum, lalu mengangguk. Kakinya melangkah mendekati meja makan. “Hati-hati!” Bahalap menarikkan kursi untuk Bawin. Ia hendak memegang tangan wanita itu, menuntunnya untuk duduk. Tapi, tindakannya seketika berhenti. Dengan tatapan polos, ia bertanya pada Bawin, “Sudah boleh dipegang, ‘kan?”

     Bawin tertawa mendengar pertanyaan lugu itu. Bahalap tak pernah kehilangan karakternya yang satu itu, sama seperti dirinya tak pernah kehilangan sifat keras kepala. Bahalap memang selalu bisa membuat Bawin tertawa. “Sudah boleh, kok,” jawab Bawin kemudian.

     Wajah Bahalap makin semringah. Kedua tangannya memegang Bawin, membantunya duduk. “Selamat makan, Tuan Putri,” bisiknya. Ia kemudian mengecup dahi Bawin yang masih basah oleh air.

     “Terima kasih, Pangeranku,” balas Bawin.

     Bahalap bersusah payah menyembunyikan pipinya yang merona merah mendengar ucapan Bawin tadi. Itu memang bukan kali pertama Bawin menyebutnya sebagai pangeran. Tetapi, hati Bahalap yang mudah tersentuh selalu berbunga-bunga setiap kali Bawin melakukan itu. Ia seperti tak pernah bosan sama sekali. Lelaki itu membetulkan kacamatanya, mendorongnya naik, lalu segera menarik bangkunya sendiri.

     “Oh, ya! Aku tadi coba masak ayam rica-rica. Tidak terlalu pedas, sih. Kamu, ‘kan tahu, aku tidak suka makan pedas. Jadi, aku harap, kamu tidak kecewa, ya, dengan rasanya,” tutur Bahalap hati-hati sambil menunjuk masakan berwarna kehijauan yang baru saja Bawin sendokkan ke mulutnya.

     “Ini enak, kok. Aku suka. Kurang pedas, sih, untuk lidah aku yang suka makan seblak. Tapi, kalau aku pikir-pikir, masakan kamu lebih enak daripada masakanku, lho,” komentar Bawin. Ia menggerak-gerakkan sendok dan garpu di tangannya naik-turun.

     “Oh, ya?”

     “Ya! Sepertinya, kalau pandemi ini berakhir, kita bisa buka usaha makanan. Nanti, kita masak sama-sama. Kamu ajarkan aku, ya?”

     Bahalap terbahak-bahak mendengar usul istrinya itu. “Ada-ada saja!” serunya di tengah gelak. Bawin juga ikut tergelak mendengar tawa Bahalap. Tapi, kalau dipikir-pikir, usul itu mungkin bisa mereka praktikkan kapan-kapan. Mungkin nanti, saat ia dan Bahalap sudah sama-sama pensiun. Tentu menyenangkan, bukan, menikmati usia senja sambil membangun usaha bersama orang yang kita cintai? Mungkin anak-anak mereka juga bisa membantu mereka nanti.

     Omong-omong tentang anak, Bawin baru ingat bahwa ia punya kabar gembira. Cepat-cepat ia mengunyah dan menelan makanan di mulutnya, kemudian mulai bicara lagi. “Oh, ya! Tadi, aku merasa anak kita menendang-nendang lagi di dalam sini. Tendangannya juga semakin kuat.” Bawin menunjuk perutnya dengan wajah bangga dan bahagia.

     “Sungguh?” Bahalap membulatkan mata, antara tak percaya dan kagum.

     “Iya! Coba kamu pegang!”

     Bahalap separuh meloncat dari kursi makan. Ia menyapukan tangannya di celana pendek yang dikenakannya. Dengan separuh takut-takut, ia meletakkan tangannya di perut Bawin. Telapak tangannya merasakan suatu tendangan kecil. Bahalap nyaris terjungkal ke belakang akibat terkejut. Keduanya tertawa serempak. “Tendangannya kuat juga, ya? Memangnya tidak apa-apa?”

     “Tidak apa-apa, kok. Justru itu pertanda baik. Artinya, anak kita sehat dan aktif di dalam sini.”

     Bahalap mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan dari Bawin. Ia kembali meraba perut sang istri, merasakan tendangan janin dalam perutnya. “Hmmm ... sepertinya anak kita laki-laki, deh,” gumam Bahalap sok tahu.

     Bawin menaikkan alis. “Oh, ya? Tahu dari mana?”

     “Dari tendangannya,” tutur Bahalap polos.

     Bawin kembali tergelak. Pipinya sampai terasa sakit karena terus tertawa. “Kamu maunya punya anak laki-laki, ya? Biar bisa jadi teman main kamu?”

     Bahalap menggeleng. “Tidak juga. Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyayanginya. Bagi aku, tidak akan ada bedanya. Tapi, kalau laki-laki, aku sudah punya usul nama. Namanya Balawa.”

     Dahi Rebecca berkerut. “Kok, Balawa?”

     “Iya. Supaya namanya diawali huruf B, seperti kita berdua. Selain itu, supaya kehidupan anak kita juga bisa dipenuhi oleh ketenangan.” Bahalap tersenyum lebar-lebar, memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapat-rapat.

     “Boleh juga. Kalau perempuan, namanya Bakena. Artinya cantik,” timpal Bawin.

     Malam itu, keduanya sibuk menyebutkan nama-nama ala Dayak untuk anak lelaki maupun perempuan yang berawalan huruf B. Nama-nama yang indah. Nama-nama yang penuh harapan dan doa, sebagaimana harapan dan doa mereka terus mengalir untuk anak yang ada di kandungan Bawin saat ini, yang entah lelaki atau perempuan, akan tetap mereka cintai sepenuh hati. Sebagian nama yang Bawin sebut Bahalap tak suka dan sebagian nama yang Bahalap sebut Bawin tak setuju. Meski begitu, mereka terlihat begitu bahagia.

***

     Sore itu, Bahalap tengah duduk santai di kursi bambu di teras rumah. Bawin yang memilih kursi itu dulu. Katanya, supaya suasana rumah terasa lebih segar dan alami. Dan, Bahalap rasa, hal itu ada benarnya. Teras adalah tempat yang paling ia sukai di rumah ini, selain kamar dan taman belakang. Bahalap selalu merasa tenang setiap kali duduk di sini, seperti yang ia lakukan kali ini. Dengan ditemani secangkir kopi panas, ia duduk memangku laptop hitam kesayangannya.

     Ponsel Bahalap tiba-tiba bergetar. Sebuah telepon masuk. Ia melirik nama yang tertera. Alina. Dahi Bahalap seketika berkerut dalam-dalam. Alina adalah teman seangkatan sekaligus sahabat Bawin sejak SMA. Ia mengambil jurusan S1 Keperawatan, sama seperti Bawin. Alina juga ditempatkan di rumah sakit yang sama dengan Bawin. Bahalap sengaja menyimpan nomor Alina karena terkadang Bawin tak bisa dihubungi saat berada di rumah sakit. Jadi, Bahalap bisa menghubungi Alina untuk menanyakan Bawin. Tapi, kali ini terasa aneh. Tidak biasanya Alina yang menghubungi Bahalap. Biasanya, dialah yang menelepon Alina. Alina bahkan selalu mengomel dengan suaranya yang cempreng setiap kali menerima telepon dari Bahalap.

     Bahalap meraih teleponnya yang masih terus bergetar. Digesernya ikon berbentuk telepon dengan latar belakang hijau di layar ke arah atas.

     “Halo, Kak Bahalap!” Suara Alina langsung menyambar begitu telepon tersambung. Kadang-kadang, Alina memang bertingkah kurang ajar pada Bahalap. Ia bahkan sering terang-terangan mengatai Bahalap dengan nada bercanda. Bahalap tak pernah ambil hati memang. Tapi, sekurang ajarnya Alina, ia selalu memanggil Bahalap dengan embel-embel ‘Kak’, bahkan setelah sahabatnya menikah dengan Bahalap. “Kakak tolong cepat ke rumah sakit, ya, Kak? Bawin tiba-tiba pingsan, Kak.”

     “Pingsan?” Laptop Bahalap nyaris terjatuh dari pangkuannya saat ia mendadak bangkit berdiri mendengar ucapan Alina. Untunglah tangan kiri Bahalap dengan cekatan menangkap benda itu.

     “Iya, Kak. Kakak cepat ke sini, ya!”

     “Aku ke sana segera!” Bahalap cepat-cepat memutuskan sambungan telepon. Ia kemudian menyimpan data yang tadi tengah dieditnya di laptop, lalu segera mematikan benda itu. Diambilnya jaket dan masker di kamar. Bahalap mengunci pintu dengan terburu-buru, kemudian langsung tancap gas menuju rumah sakit.

***

     “Alina!” Pria berambut ikal itu berseru begitu melihat tubuh Alina di depan sebuah ruangan. Kakinya segera melayang, berlari di atas ubin rumah sakit. “Bagaimana kondisi Bawin?”

     “Dia ada di dalam, Kak.” Alina menunjuk ruangan di sampingnya. Bahalap segera beranjak hendak memasuki ruangan tersebut. “Kak Bahalap mau ke mana? Kakak tidak boleh masuk!” cegat Alina.

     “Kenapa tidak boleh? Bawin itu istriku!” ucap Bahalap separuh membentak.

     “Aku mengerti, Kak. Tapi, kita tidak tahu Bawin sakit apa. Bisa jadi ... dia terkena penyakit itu,” ucap Alina hati-hati.

     Bahalap menggeram. Urat-urat di lehernya nampak mengencang. Wajahnya yang tadi panik seketika merah padam. “Apa kamu bilang? Kamu mengira istriku kena penyakit sialan itu? Biar kuberitahu kamu, Alina! Bawin tidak pernah lalai mematuhi protokol kesehatan. Tidak mungkin dia  terjangkit penyakit gila itu!” seru Bahalap.

     “Tapi, Kak, penyakit ini bisa menular ke siapa saja. Kalau masyarakat biasa saja banyak yang bertumbangan, apalagi tenaga medis seperti kami yang setiap hari berhadapan dengan pasien. Risiko bagi kami tertular lebih besar, Kak,” jelas Alina.

     Bahalap menundukkan kepala dalam-dalam hingga kacamatanya hampir jatuh. Ia sesungguhnya sudah mengetahui hal itu. Kemarahannya yang tak berdasar pada Alina sebenarnya hanyalah topeng untuk menutupi kecemasannya akan kondisi Bawin. Ia berusaha menyangkal bahwa Bawin punya kemungkinan tertular virus itu. Padahal, kekhawatiran itu sendiri telah ia rasakan sejak lama, bahkan di hari pertama Bawin memutuskan untuk mengambil tugas itu.

     Saat Alina dan Bahalap sama-sama terdiam, tubuh Bawin di dalam kamar sana tiba-tiba bergerak. Dadanya membusung tinggi-tinggi. Mulutnya sedikit membuka.

     “Dokter, pasien nampaknya kesulitan bernapas. Kadar oksigennya tidak sampai enam puluh milimeter raksa!” seru seorang perawat yang masih mengenakan APD lengkap. Meski seruan itu diredam oleh kaca dan dinding yang jadi pembatas ruangan, Bahalap bisa mendengarnya dengan amat jelas dan ia tahu bahwa itu bukan pertanda baik.

     “Suster, pasangkan ventilator pada pasien!” sahut si dokter muda. Alina yang melihat situasi itu segera berlari memasuki ruangan. Bahalap ingin sekali menyusul masuk ke dalam sana. Tapi, mengingat ucapan Alina tadi, niatnya jadi urung. Ia bertahan di depan ruangan itu.

     “Ayo bangun, Bawin! Ayo bangun! Bangun! Aku yakin kamu kuat!” rintihnya. Susah payah ia menahan tangis melihat perempuan yang ia cintai nampak semakin kesulitan bernapas. Dadanya semakin tinggi membusung, berusaha mendapat oksigen sebanyak yang ia bisa. Entah apa yang dilakukan oleh para medis di dalam sana. Ada banyak benda aneh yang mereka pasangkan ke tubuh Bawin, benda-benda dengan bentuk melingkar seperti belalai. Bahalap tidak tahu apa nama benda-benda itu. Berapa kali pun Bawin telah memberitahunya, Bahalap tetap tak bisa menghafalnya. Yang ia tahu, kondisi Bawin semakin memburuk. Satu per satu tetesan bening nan hangat berguguran di pipinya. Tiba-tiba, kepala Bahalap terasa berat. Matanya perlahan mengabur, lalu semuanya lenyap. Gelap.

***

     “Aku juga ikut dites saat itu dan hasil tesnya keluar satu hari kemudian. Aku dinyatakan negatif, tapi kamu positif terjangkit virus tersebut,” gumam Bahalap perlahan. Keduanya hening. Wanita berkuncir kuda itu menelengkan kepala ke kiri dan kanan. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Bahalap. “Kenapa kita harus berpisah, Bawin? Kenapa kamu berbohong?”

     Bawin bersusah payah menyudahi matanya yang terus menitikkan air mata. Tangannya terangkat, mengusap air mata di wajah Bahalap. “Bahalap, bukankah sudah kukatakan padamu? Jangan menyebutnya perpisahan! Tak pernah ada perpisahan bagi dua orang yang saling mencintai karena orang yang saling mencintai tidak bisa meninggalkan satu sama lain. Rasa cinta mungkin akan berkurang sedikit, tetapi tidak akan pernah pergi. Ia akan tetap dalam hati. Dalam sini.” Bawin menunjuk dada kiri suaminya. “Perpisahan adalah semu, Bahalap.”

     Bahalap terisak-isak mendengar ucapan Bawin tersebut. Air matanya makin deras berguguran. Diraihnya tubuh sang istri, lalu didekapnya dalam-dalam “Aku mencintai kamu, Bawin. Aku mencintai kamu. Jangan tinggalkan aku!” raungnya. Bawin hanya membelai punggung Bahalap lembut.

     Sementara itu, di belakang sana, pria berjari seribu telah sampai di hitungan terakhirnya. Bahalap tahu, ia telah sampai di saat-saat terakhir. Didekapnya tubuh Bawin lebih erat, seakan dengan demikian, ia tidak akan pergi. Tetapi, tak pernah ada yang bisa menghalangi pria berjari seribu melakukan tugasnya. Pelan tapi pasti, Bahalap merasakan tubuh Bawin semakin ringan, semakin hilang, sebelum akhirnya ikut tertiup bersama angin, meninggalkan Bahalap seorang diri.

***

     Lelaki dengan brewok tipis menghias wajahnya itu bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati jendela. Angin pagi menerpa wajahnya. Melalui kamarnya yang terletak di lantai dua, ia menilik ke bawah. Dahinya tiba-tiba mengerut. Sesuatu mengganggu pemandangannya di bawah sana. Ia menoleh ke arah pigura di samping ranjang, lalu pada sekotak masker non-medis di dekat benda itu, kemudian kembali lagi pada pemandangan di bawah sana. Untuk sesaat, matanya bolak-balik menatap ketiga titik itu. Tanpa aba-aba, tubuhnya kemudian berbalik. Disambarnya masker non-medis yang terletak di atas nakas, lalu ia berlari turun sembari merapalkan nama itu dalam hati, bak membaca sebuah mantra. Bawin. Wanita itu benar. Tak ada perpisahan bagi mereka karena perpisahan adalah semu.

 

 

 

 



Berita Terkait

Kepala Sekolah

Kalender Kegiatan
    « Nov 2020 »
    M S S R K J S
    1 2 3 4 5 6 7
    8 9 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30 1 2 3 4 5
    6 7 8 9 10 11 12

Suara Anda
    Bagaimana Menurut Anda Tentang Pelayanan Administrasi di SMAN 1 Sampit

     

Statistik Web
    Visitors :1087420 Org
    Hits :3265719 hits
    Month :2286 Users
    Today : 326 Users
    Online : 11 Users

Kontak Admin
    1. Achmad Noor :
    2. Tommy BR Lulu :
    3. Nasrullah :
    4. Afif Syahzali :

Top
  • Follows us our servcies